Peluang Usaha Mandiri

Sunday, May 3, 2009

Mengenal Tipologi Klassen (Seri 1. Analisis Ekonomi Daerah)

Dalam rangka membangun daerah, pemerintah daerah perlu membuat prioritas kebijakan. Penentuan prioritas kebijakan diperlukan agar pembangunan daerah dapat lebih terarah serta berjalan secara efektif dan efisien, dibawah kendala keterbatasan anggaran dan sumberdaya yang dapat digunakan.
Untuk menentukan prioritas kebijakan ini, khususnya kebijakan pembangunan ekonomi, diperlukan analisis ekonomi (struktur ekonomi) daerah secara menyeluruh. Terkait dengan hal tersebut, seri tulisan ini akan mencoba membahas beberapa teknik dan alat yang dapat digunakan dalam menganalisis struktur ekonomi daerah. Untuk seri pertama tulisan ini, akan membahas mengenai Tipologi Klassen.
Tipologi Klassen mendasarkan pengelompokkan suatu sektor, subsektor, usaha atau komoditi daerah dengan cara membandingkan pertumbuhan ekonomi daerah dengan pertumbuhan ekonomi daerah (atau nasional) yang menjadi acuan dan membandingkan pangsa sektor, subsektor, usaha, atau komoditi suatu daerah dengan nilai rata-ratanya di tingkat yang lebih tinggi (daerah acuan atau nasional). Hasil analisis Tipologi Klassen akan menunjukkan posisi pertumbuhan dan pangsa sektor, subsektor, usaha, atau komoditi pembentuk variabel regional suatu daerah.
Tipologi Klassen dengan pendekatan sektoral (yang dapat diperluas tidak hanya di tingkat sektor tetapi juga subsektor, usaha ataupun komoditi) menghasilkan empat klasifikasi sektor dengan karakteristik yang berbeda sebagai berikut.
1. Sektor yang maju dan tumbuh dengan pesat (Kuadran I). Kuadran ini merupakan kuadran sektor dengan laju pertumbuhan PDRB (gi) yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (g) dan memiliki kontribusi terhadap PDRB (si) yang lebih besar dibandingkan kontribusi sektor tersebut terhadap PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (s). Klasifikasi ini biasa dilambangkan dengan gi lebih besar dari g dan si lebih besar dari s. Sektor dalam kuadran I dapat pula diartikan sebagai sektor yang potensial karena memiliki kinerja laju pertumbuhan ekonomi dan pangsa yang lebih besar daripada daerah yang menjadi acuan atau secara nasional.
2. Sektor maju tapi tertekan (Kuadran II). Sektor yang berada pada kuadran ini memiliki nilai pertumbuhan PDRB (gi) yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (g), tetapi memiliki kontribusi terhadap PDRB daerah (si) yang lebih besar dibandingkan kontribusi nilai sektor tersebut terhadap PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (s). Klasifikasi ini biasa dilambangkan dengan gi lebih kecil dari g dan si lebih besar dari s. Sektor dalam kategori ini juga dapat dikatakan sebagai sector yang telah jenuh.
3. Sektor potensial atau masih dapat berkembang dengan pesat (Kuadran III). Kuadran ini merupakan kuadran untuk sektor yang memiliki nilai pertumbuhan PDRB (gi) yang lebih tinggi dari pertumbuhan PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (g), tetapi kontribusi sektor tersebut terhadap PDRB (si) lebih kecil dibandingkan nilai kontribusi sektor tersebut terhadap PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (s). Klasifikasi ini biasa dilambangkan dengan gi lebih besar dari g dan si lebih kecil dari s. Sektor dalam Kuadran III dapat diartikan sebagai sektor yang sedang booming. Meskipun pangsa pasar daerahnya relatif lebih kecil dibandingkan rata-rata nasional.
4. Sektor relatif tertingggal (Kuadran IV). Kuadran ini ditempati oleh sektor yang memiliki nilai pertumbuhan PDRB (gi) yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (g) dan sekaligus memiliki kontribusi tersebut terhadap PDRB (si) yang lebih kecil dibandingkan nilai kontribusi sektor tersebut terhadap PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (s).



Dimana:
gi = pertumbuhan sector daerah analisis
g = pertumbuhan sector daerah acuan
si = kontribusi sector daerah analisis
s = kontribusi sector daerah acuan
Keterangan: daerah acuan adalah daerah yang lebih tinggi. Misalnya, kalau daerah analisis adalah kabupaten/kota, daerah acuan bisa menggunakan propinsi. Kalau daerah analisis adalah propinsi, maka daerah acuan bisa menggunakan nasional atau pulau, ataupun wilayah pembangunan tertentu dimana daerah analisis merupakan bagian dari wilayah tersebut.
Berikut ini diberikan contoh aplikasi perhitungan tipologi klassen (untuk mempermudah menggunakan program Excel).
Misalnya, kita ingin menganalisis struktur perekonomian suatu kabupaten (sebagai daerah analisis) dan membandingkannya dengan propinsi dimana kabupaten tersebut berada (sebagai daerah acuan). Data yang digunakan dalam contoh ini adalah PDRB Menurut Lapangan Usaha (Sektor) Tahun 2003 dan 2007 berdasarkan harga konstan 2000.
Untuk latihan, ketikkan data di worksheet Exel, sesuai dengan letak kolom dan baris seperti tampilan di bawah.

Pada kolom A mulai dari sel A5 sampai A13 ketikan nama sektor.
Pada kolom B ketikan data PDRB sektor daerah analisis untuk tahun 2003
Pada kolom C ketikan data PDRB sektor daerah analisis untuk tahun 2007
Pada kolom D, hitung rata-rata pertumbuhan. Ada beberapa rumus untuk menghitung rata-rata pertumbuhan, tetapi dalam contoh ini kita menggunakan rumus r = (((PDRB2007 – PDRB2003)/PDRB2003)/4))*100
Untuk kepentingan tersebut, letakkan pointer di sel D5 kemudian ketikkan rumus sbb: =(((C5-B5)/B5)/4)*100. Selanjutnya copy rumus tersebut sampai sel D13.
Pada kolom E, hitung rata-rata kontribusi untuk 2003 dan 2007. Gunakan rumus Excel berikut:
=((B5+C5)/(B$14+C$14)*100. Selanjutnya copy rumus tersebut sampai sel E13.
Pada kolom F ketikan data PDRB sektor daerah acuan untuk tahun 2003
Pada kolom G ketikan data PDRB sektor daerah acuan untuk tahun 2007
Copy seluruh rumus pada range D5:D13 ke range H5:H13 untuk mendapatkan rata-rata pertumbuhan daerah acuan
Copy seluruh rumus pada range E5:E13 ke range I5:I13 untuk mendapatkan rata-rata kontribusi daerah acuan
Pada kolom J tuliskan rumus berikut untuk mendapatkan kuadran masing-masing sektor.

Berdasarkan perhitungan tersebut, sektor-sektor dapat dikelompokkan dalam kuadran sebagai berikut:


Dari table tersebut terlihat bahwa sector yang dapat dikategorikan sebagai sector yang maju dan tumbuh dengan pesat (Kuadran I) adalah sektor pertanian. Dengan kata lain, di Kabupaten ini sektor pertanian memiliki kinerja laju pertumbuhan ekonomi dan pangsa yang lebih besar dibandingkan keadaan propinsinya secara keseluruhan.
Selanjutnya, sektor pertambangan dan penggalian menurut tipologi Klassen terkategori sebagai sektor yang maju tapi tertekan (Kuadran II). Sektor pertambangan memiliki nilai pertumbuhan PDRB yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan PDRB Provinsi, tetapi memiliki kontribusi terhadap PDRB kabupaten yang lebih besar dibandingkan kontribusi nilai sektor tersebut terhadap PDRB Provinsi. Dengan kata lain, sektor pertambangan dan penggalian di kabupaten ini dapat dikategorikan sebagai sector yang telah jenuh.
Analisis tipologi Klassen juga menemukan bahwa di kabupaten ini terdapat banyak sektor yang terkategori sebagai sektor potensial atau masih dapat berkembang dengan pesat (Kuadran III). Sektor-sektor tersebut adalah sektor industri pengolahan, listrik, gas dan air bersih, bangunan, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi dan jasa-jasa. Sektor dalam Kuadran III dapat diartikan sebagai sektor yang sedang booming. Meskipun pangsa pasar daerahnya relatif lebih kecil dibandingkan rata-rata Provinsi.
Dalam konteks tipologi Klassen ini juga terlihat bahwa sektor keuangan, persewaan dan jasa di kabupaten ini ternyata tergolong sebagai sektor yang relative tertinggal (Kuadran IV). Hal ini terlihat dari nilai pertumbuhan PDRBnya yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan PDRB Provinsi dan sekaligus memiliki kontribusi terhadap PDRB yang lebih kecil dibandingkan nilai kontribusi sektor tersebut terhadap PDRB propinsi.

Artikel lainnya:

2 comments:

Unknown said...

salam kenal mas Wahyudi, saya Ando Situngkir dari Medan, kebetulan saya sedang mencari tahu tentang metode Tipologi Klassen ini. Saya pernah membaca penelitian yang menggunakan Tipologi Klassen terhadap penawaran dan permintaan tenaga kerja, namun sayangnya penjelasannya kurang lengkap. Apakah hal ini benar dapat dilakukan? mohon petunjuknya ya mas, terima kasih...

Junaidi said...

Sayangnya saya juga tidak tahu mengenai hal tersebut. Yang saya tahu, tipologi klassen ini biasanya digunakan untuk melihat tipologi pertumbuhan sektor dan tipologi pertumbuhan daerah. Saya belum ketemu literatur untuk aplikasi terhadap permintaan dan penawaran tenaga kerja

Post a Comment

 
(c) free template