Peluang Usaha Mandiri

Showing posts with label siklus bisnis. Show all posts
Showing posts with label siklus bisnis. Show all posts

Friday, May 15, 2009

Monetary Business Cycle (2)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari bagian 1.

3. Teori Monetary Business Cycle: Tradisi Continental dan Anglo-Amerika
Dalam teori siklus bisnis, tradisi Continental cenderung menekankan bahwa fenomena riil --khususnya perubahan teknologi-- yang mendorong perekonomian keluar dari keseimbangan dan konsekuensi dari struktur perekonomian riil yang tidak seimbang tersebut yang menyebabkan siklus. Pada tradisi Continental, ketidakseimbangan tersebut bersifat horisontal, yakni ketidakseimbangan antar sektor ekonomi, yang mendorong siklus. Sebaliknya, tradisi Anglo-Amerika memfokuskan bagaimana hal-hal eksternal seperti aspek psikologi, dapat menyebabkan ketidakseimbangan perekonomian dan mendorong siklus. Tetapi untuk Anglo-Amerika, ketidakseimbangan bersifat vertikal, yaitu kesulitan penyelarasan antar waktu.
Terkait dengan teori monetary business cycle, Hawtrey, ekonom Cambridge, mengadopsi pendekatan Anglo-Amerika, sedangkan Hayek, ekonom Austria, mengadopsi pendekatan Continental (Garrison, 2002). Menurut Hawtrey, perekonomian adalah entitas "single sector " dan siklus digerakkan oleh ketidakseimbangan vertikal – ketidakselarasan antar waktu (yang disebabkan oleh uang). Menurut Hayek, perekonomian adalah suatu "multi-sektoral" yang kompleks, sehingga siklus digerakkan oleh ketidakseimbangan horisontal– ketidakselarasan antar sektor (yang disebabkan oleh uang juga). Jadi, Hawtrey tidak memperhatikan aspek harga relatif. Uang mempengaruhi perekonomian "single-sektor"nya melalui pengaruh tingkat harga absolut. Sebaliknya, dalam perekonomian multi-sektor Hayek, uang mempengaruhi harga relatif dan harga relatif tersebut yang menjadi faktor utama siklus. Harga absolut, dalam pandangannya adalah tidak relevan.

3.1. Siklus “Pure Money” Hawtrey
Karakter utama teori “pure money” Hawtrey (Botha,2007) adalah pedagang (wholesaler dan middlemen) adalah terlalu bergantung pada kredit bank dan karenanya sangat sensitif terhadap suku bunga. Penambahan sedikit saja dari suplai uang yang menurunkan suku bunga akan mendorong pedagang untuk meningkatkan persediaan. Mereka melakukannya dengan meningkatkan pinjaman dari bank-bank dan menuntut peningkatan produksi dari perusahaan.
Tapi karena peningkatan produksi membutuhkan waktu, suplai uang dari perekonomian terlalu besar untuk jumlah pendapatan tertentu. "Unspent margin" ini mendorong permintaan konsumen yang lebih tinggi lagi - tetapi permintaan tambahan tersebut akan menurunkan persediaan barang pedagang. Menyadari turunnya persediaan mereka, pedagang menuntut lagi kepada perusahaan untuk meningkatkan produksi dan meminjam uang untuk melakukannya. Tetapi sekali lagi hal tersebut mendorong ke kelebihan pasokan uang, dan seterusnya.
Titik belok dalam siklus Hawtrey terjadi ketika produksi (dan juga pendapatan) akhirnya seimbang dengan suplai uang. Ini terjadi ketika bank mulai menutup kredit apabila bank melihat cadangan mereka mulai turun.
Apabila bank menghentikan pinjaman ke pedagang, ini akan mengurangi permintaan pedagang pada perusahaan. Produksi akan melambat dan juga pendapatan - tetapi dengan suatu lag lagi. Awalnya terjadi penurunan pasokan uang dan konsumen memiliki “excess demand” untuk uang dan permintaan untuk barang-barang akan lebih rendah. Hal tersebut mengarah ke penumpukan persediaan, terjadi penurunan permintaan oleh perantara ke perusahaan dan produksi akan berkurang. Penurunan tersebut berlanjut sampai bank kelebihan cadangan lagi dan kembali meminjamkan uang.

3.2. Teori Moneter Hayek
Teori siklus bisnis Hayek (Haberler G, 1986) menyatakan bahwa ekspansi kredit pada lembah siklus terjadi karena akumulasi dana yang dapat dipinjamkan menyebabkan tingkat “natural” suku bunga berada dibawah tingkat suku bunga “real”. Perluasan investasi akan terjadi dan permintaan barang-barang modal akan meningkat.
Namun, peningkatan permintaan barang-barang modal, berarti bahwa permintaan agregat dalam perekonomian lebih besar daripada suplai keseluruhan. Dengan asumsi adanya keterbatasan sumberdaya, ini berimplikasi bahwa perusahaan harus memutuskan apakah tidak menanggapi permintaan yang tinggi tersebut dan memproduksi barang konsumsi sama seperti sebelumnya atau meresponnya, sehingga menghasilkan lebih banyak barang modal dan mengurangi produksi barang-barang konsumsi. Hayek berargumentasi yang terakhir akan terjadi - dan dengan demikian proporsi barang modal terhadap barang konsumsi akan naik.
Ketika penawaran barang konsumsi turun, sedangkan pendapatan konsumen tetap, maka akan terjadi apa yang disebut Hayek sebagai "forced saving": konsumen terpaksa menabung hanya karena tidak ada lebih banyak barang untuk dibeli. Peningkatan tabungan ini, akan mendanai ekspansi kredit.
Tetapi, pada kondisi ini tidak ada fluktuasi dalam output. Fluktuasi dalam output akan terjadi menurut Hayek adalah jika agregat suplai tidak sepenuhnya tetap, karena ada sumber daya baru yang dapat digunakan sebagai input dalam produksi. Oleh karenanya, dalam kondisi ini kemudian produksi barang modal dan konsumsi keduanya akan meningkat. Ini adalah perluasan umum output. Tetapi ekspansi output pada umumnya berarti pendapatan yang lebih tinggi dan pendapatan umum yang lebih tinggi, menyebabkan permintaan konsumen lebih tinggi. Akibat meningkatnya permintaan konsumen terhadap barang konsumsi akan mendorong industri barang-barang konsumsi untuk berproduksi lebih banyak.
Hal ini berlanjut sampai tingkat full-employment tercapai. Pada posisi ini kemudian, kendala pasokan agregat akan berlaku. Dengan asumsi proporsi tidak berubah, meningkatnya permintaan konsumen untuk barang konsumsi mengarah ke meningkatnya harga-harga barang konsumsi relatif terhadap barang modal.
Meningkatnya harga barang konsumsi menyebabkan industri barang-barang konsumsi relatif lebih menguntungkan dari industri barang modal. Industri barang konsumsi mulai bersaing dengan industri barang modal di pasar faktor: yaitu industri barang konsumsi, akan mulai mengambil tenaga kerja dan modal yang digunakan industri barang modal. Persaingan ini akan meningkatkan biaya faktor keseluruhan – upah dan tingkat bunga pinjaman meningkat. Ini adalah puncak siklus.
Pada kondisi ini, keuntungan yang lebih rendah dan permintaan yang lebih rendah pada industri barang modal menyebabkan skala industri barang modal akan mengecil dalam ukuran relatif terhadap industri barang konsumsi. Mulai terjadi ayunan kebawah (downswing).
Selama downswing, skala industri barang modal mengecil, orang yang bekerja pada sektor tersebut akan dirumahkan. Ini akan mengakibatkan penurunan permintaan untuk barang konsumsi, yang akan berakibat pada mengecilnya skala industri barang konsumsi. Tetapi penyusutan industri barang konsumsi berarti bahwa permintaan investasi akan turun lebih lanjut (karena perusahaan barang konsumsi juga meminta barang modal). Ini akan mengakibatkan penyusutan lebih lanjut dari produksi barang modal dan seterusnya. Sebagai akibat penurunan umum dalam output dan permintaan investasi, dana siap dipinjamkan akan mulai lagi menumpuk di bank, sehingga suku bunga pinjaman akan mulai turun. Ketika suku bunga pinjaman berada dibawah tingkat natural, investasi akan mengambilnya lagi. Dengan cara ini, lembah siklus dicapai dan industri barang modal mulai berproduksi lagi - dan ekspansi terjadi.
Poin utama dari teori Hayek adalah: jika tidak ada sistem perbankan yang memberikan kredit, tidak ada siklus karena semuanya berada dalam keseimbangan. Uang (atau lebih tepatnya, pasokan kredit bank pada tingkat bunga di bawah tingkat bunga riil) yang menyebabkan ketidakseimbangan permintaan dan penawaran untuk barang modal dan barang konsumsi. Selama ekspansi ada suatu "perpanjangan (lengthening) periode produksi", yakni suatu peningkatan dalam produksi barang modal relatif terhadap barang-barang konsumsi, tetapi output kedua sektor meningkat. Selama kontraksi, terdapat "perpendekan (shorthening) periode produksi", yakni turunnya jumlah barang modal yang dihasilkan relatif terhadap barang-barang konsumsi, namun kedua sektor tersebut mengalami penurunan output. "Lengthening/Shortening" selama ekspansi/kontraksi adalah yang disebut dengan "Concertina Efek".
Yang terpenting, titik balik dari siklus disebabkan oleh terlalu banyaknya permintaan konsumen. Dengan demikian kelebihan permintaan konsumen adalah penyebab langsung dari resesi (penyebab tidak langsung adalah overinvestment sebelumnya, atau lebih tepatnya, kebijakan pinjaman murah sektor perbankan)
Nicholas Kaldor (1939) tidak setuju dengan Hayek. Dia menyatakan bahwa selama ekspansi, proporsi barang-barang modal terhadap barang konsumsi akan turun bukannya meningkat. Menurut Kaldor, pada lembah siklus, secara keseluruhan perusahaan beroperasi dengan kelebihan kapasitas. Dengan kata lain, terdapat stok modal tetap, yaitu bagian yang tidak digunakan. Akibatnya, karena upswing dimulai, hal pertama yang dilakukan pengusaha adalah membangun lebih banyak mesin dan meningkatkan kapasitas. Kaldor mengemukakan, pada tahap awal upswing, lebih banyak tenaga kerja digunakan, namun tidak ada modal baru yang akan diminta. Oleh karena itu, pada awal permintaan konsumen meningkat, keuntungan industri barang konsumsi meningkat. Oleh karena itu, industri barang konsumsi meningkat proporsinya terhadap industri barang modal selama ekspansi. Ketika perusahaan mencapai kapasitas yang ada, maka mereka akan mulai meminta modal. Baru kemudian permintaan barang modal meningkat.
Dalam downswing, Kaldor berpendapat, yang terjadi sebaliknya: ketika puncak siklus mulai hilang, pengusaha tidak dapat menghentikan mesin dalam jangka pendek untuk mengurangi output, tetapi sebaliknya mereka akan memberhentikan pekerja. Namun hal tersebut akan menurunkan permintaan konsumen dan industri barang konsumsi. Dengan demikian, ukuran relatif dari industri barang modal meningkat walaupun output secara keseluruhan akan turun.
Hayek kemudian, membalikkan argumen sebelumnya. Menurut Hayek, ekspansi kredit (pada lembah siklus), akan memperluas permintaan barang konsumsi. Ini, akan meningkatkan keuntungan dalam industri barang konsumsi dan harganya. Ketika harga barang konsumsi meningkat, upah real turun - sehingga meningkatkan keuntungan. Ketika keuntungan meningkat, terjadi peningkatan investasi. Namun, investasi baru ini akan diarahkan pada metode produksi yang intensif-tenaga kerja yang menyebabkan upah riil turun. Ini adalah bagian terakhir Hayek yang mengacu pada "Ricardo Efek".
Pada dasarnya, efek investasi yang pertama akan meningkatkan permintaan terhadap barang modal sedangkan yang kedua "Ricardo efek" menyebabkan penurunan. Karena Hayek menganggap bahwa “Ricardo efek” lebih kuat dari efek investasi, permintaan investasi dan industri barang modal berkurang dalam ukuran relatif.

Bahan Bacaan
Priyanti,A, dkk, 2002, “Falsafah Kebenaran dalam Perkembangan Ilmu, (Pendekatan Aliran Pemikiran Makroekonomi)”, Makalah pada PPS IPB, Bogor
Zijp, R, 1990, Serie Research Memoranda: New Classical Monetary Business Cycle Theory, Facultelt der Economische Wetenschappen en Econometrie, vrije Universiteit, Amsterdam.
Garrison, RW, 2002, “Business Cycles: Austrian Approach” dalam An Encyclopedia of Macroeconomics (Vane H dan Snowdon B, eds), Aldershot: Edward Elgar
Botha,D.J.J,2007, “Professor Wijnholds’ Budget Theory of Money (Review Article)”. Journal Compilation (c) 2008 The Economic Society of South Africa
Haberler,G,1986, “Reflections on Hayek’s Business Cycle Theory”, Cato Journal, Vol. 6, No.2
Baca Selengkapnya..

Monetary Business Cycle (1)

1. Pendahuluan: Pemikiran Moneteris (Monetarism)
Pada tahun 1960-an, dipelopori Milton Friedman, berkembang suatu aliran pemikiran dalam makroekonomi yang dikenal sebagai aliran moneteris (monetarism). Aliran moneteris berbeda pandangan dengan aliran Keynesian, terutama menyangkut penentuan pendapatan. Kaum moneteris menghendaki agar analisis tentang penentuan pendapatan memberi penekanan pada pentingnya peranan jumlah uang beredar (money supply) di dalam perekonomian.
Bagi kaum moneteris, jumlah uang beredar merupakan faktor penentu utama dari tingkat kegiatan ekonomi dan harga-harga di dalam suatu perekonomian. Dalam jangka pendek, jumlah uang beredar mempengaruhi tingkat output dan kesempatan kerja. Dalam jangka panjang jumlah uang beredar mempengaruhi tingkat harga atau inflasi. Pertumbuhan uang beredar yang berlebihan menyebabkan terjadinya inflasi, dan pertumbuhan moneter yang tidak stabil menyebabkan gejolak atau fluktuasi ekonomi.
Adapun gagasan pokok dari aliran moneteris yang dianggap penting di antaranya adalah (Priyanti,A,dkk, 2002):
1. Sektor atau perekonomian swasta pada dasarnya adalah stabil.
2. Kebijakan makroekonomi aktif seperti kebijakan fiskal dan moneter hanya akan membuat keadaan perekonomian menjadi lebih buruk. Karenanya, kaum moneteris menghendaki suatu peran atau campur tangan pemerintah seminimum mungkin dalam perekonomian.
3. Seperti halnya dengan aliran Klasik, kaum moneteris berpendapat bahwa harga-harga dan upah di dalam perekonomian adalah relatif fleksibel, yang akan menjamin keadaan keseimbangan di dalam perekonomian selalu bisa diwujudkan.
4. Jumlah uang beredar merupakan faktor penentu yang sangat penting dari tingkat kegiatan ekonomi secara keseluruhan.

2. Teori Monetary Business Cycle Neo-Klasik/Teori Monetary Overinvestment
Leijonhufvud (1984) dalam Zijp (1990) mendefinisikan empat jenis teori siklus bisnis. Jenis ini diidentifikasi dalam kaitannya dengan (1) sifat yang menyebabkan siklus, dan (2) sifat dari fenomena yang membentuk siklus. Sifat (nature) ini berbentuk 'real' (R) atau 'nominal' (N), sehingga taksonomi siklus bisnis adalah: N/N, N/R, R/N, dan R/R. Teori Monetary Bussines Cycle (MBC) Neo-Klasik adalah teori N/R: penyebabnya adalah siklus moneter (yakni nominal); sedangkan bentuk fenomenanya adalah siklus ril. Gangguan eksogenus yang menyebabkan siklus adalah peningkatan dalam tingkat ekspansi moneter, sebaliknya fenomena ril yang membentuk siklus adalah kelebihan investasi (overinvestment). Karenanya teori MBC Neo-Klasik juga disebut teori “monetary overinvestment”.
MBC Neo-Klasik adalah model 'pulau', di mana masing-masing individu hanya dapat beroperasi dalam satu pasar lokal, di mana barang dihasilkan. Mereka juga berasumsi bahwa perdagangan hanya dapat dilakukan dengan menggunakan uang. Selain itu, suplai uang berfluktuasi secara acak, yang disebabkan oleh pengeluaran pemerintah. Shock acak ini tersebar merata di seluruh perekonomian.
Dengan informasi yang lengkap, individu tahu bahwa peningkatan “money balances”nya karena adanya shock moneter dalam perekonomian. Namun, pada MBC Neo-Klasik, tidak terdapat informasi yang lengkap. Informasi diasumsikan memiliki lag satu periode. Shock moneter dalam perekonomian akan mengubah tingkat harga nominal (yakni, rata-rata nilai tukar antara uang dan barang) melalui efek keseimbangan tunai riil (real cash-balance effect). Ini menyebabkan harga lokal akan berubah.
Individu kemudian dihadapi dengan masalah interpretasi, yaitu apakah pergerakan harga disebabkan oleh bergesernya permintaan relatif atau oleh perubahan dalam ekonomi moneter. Karena tidak tahu adanya tambahan kenaikan stok uang, mereka akan mengabaikan komponen nominal dari kenaikan harga dan akan meningkatkan produksi. Dengan kata lain, dalam jangka pendek, perubahan moneter akan mengakibatkan perubahan variabel ril. Namun, segera setelah informasi mengenai tingkat harga umum tersedia, individu tahu bahwa mereka keliru menginterpretasikan kenaikan harga. Mereka kemudian akan menyesuaikan produksi ke tingkat yang sebenarnya (natural rate), sehingga mengembalikan netralitas uang dalam jangka panjang. Ini berarti bahwa tidak akan ada korelasi serial dalam fluktuasi output.
Namun, siklus bisnis dicirikan oleh fakta bahwa akibat dari kesalahan ekspektasi adalah bersifat korelasi serial. Karenanya banyak kritik yang memperdebatkan Neo-Klasik, terutama yang terkait dengan kegagalan Neo-Klasik membedakan antara sumber-sumber gangguan (impulses) dan mekanisme perambatan (yang akan membuat impulses memiliki efek yang lama). Siklus hanya akan terjadi jika shock berkorelasi secara serial, atau jika mekanisme perambatan membawa dampak dari kesalahan ekspektasi ke periode lainnya

2.1. Mekanisme Perambatan (Propagation Mechanisms)
Beberapa modifikasi model Neo-Klasik telah menggunakan mekanisme perambatan dalam analisisnya. Dalam model Lucas (1975 dalam Zijp,1990) , suatu peningkatan dalam suplai uang hanya akan meningkatkan tingkat harga umum ketika informasi mengenai shock moneter tersedia. Jadi, uang adalah netral dalam jangka lebih panjang. Tetapi, uang tidak bersifat super netral: perubahan dalam tingkat pertumbuhan suplai uang tidak menyebabkan perubahan tingkat inflasi secara proporsional. Ini akan menyebabkan perubahan dalam nilai ril uang.
Blinder dan Fischer (1981 dalam Zijp,1990) menggunakan penyesuaian bertahap dari stok barang untuk mencapai suatu model Neo-Klasik yang menghasilkan siklus bisnis. Dalam konteks tersebut diperkenalkan istilah efek kapasitas. Dia menyatakan bahwa pada awalnya investasi akan meningkat tajam setelah shock, akan tetapi sesudah itu menurun secara bertahap. Hal ini disebabkan, perusahaan tidak dapat mengurangi secara drastis kapasitas terpasang dari produksi yang telah ada.
Namun, hal ini tidak sesuai dengan bukti-bukti empiris yang menunjukkan bahwa investasi dan output meningkat selama beberapa periode sebelum menurun. Dua penjelasan dapat diberikan untuk ini. Pertama, lag informasi mungkin lebih dari satu periode. Kedua, proyek investasi melibatkan perencanaan, sehingga terdapat lag yang panjang dari perencanaan untuk meningkatkan stok kapital sampai ketika kapital baru tersebut mulai berproduksi.

2.2. Pandangan Neo-Klasik terhadap Kebijakan Moneter
Pandangan mengenai efektivitas kebijakan moneter tergantung pada asumsi mengenai informasi. Pertama, dalam situasi informasi yang sempurna, kebijakan moneter tidak akan efektif: tidak mempengaruhi variabel ril. Posisi ini disebut sebagai proposisi netralitas. Kedua, dalam situasi informasi tidak sempurna, kebijakan moneter akan efektif. Posisi ini disebut sebagai proposisi non-netralitas

Proposisi Netralitas
Dalam tingkat keseimbangan alami (NRE=natural rate equilibrium) kebijakan moneter adalah netral dalam arti tidak mempengaruhi variabel ril. Jika semua individu memiliki pengetahuan dan tinjauan ke masa depan yang sempurna, individu tidak akan membuat kesalahan ekspektasi. Individu akan tahu apa yang akan dilakukan pemerintah dan/atau otoritas moneter, yang memungkinkan mereka untuk mengantisipasi langkah-langkah kebijakan dengan benar (dalam arti probabilistik). Pada kondisi ini, kebijakan moneter tidak efektif. Ekspansi moneter hanya akan meningkatkan tingkat harga, namun tidak berpengaruh terhadap output ril. Proposisi ini disebut sebagai proposisi netralitas.

Proposisi Non-Netralitas
Jika individu tidak memiliki pengetahuan dan tinjauan ke masa depan yang sempurna, maka individu akan membuat kesalahan ekspektasi. Kebijakan moneter akan efektif mempengaruhi variabel riil.
Kebijakan pemerintah akan mempunyai efek ril jika pemerintah memang memiliki keunggulan informasi. Namun, lama efek ini akan tergantung pada lamanya keuntungan informasi tersebut. Jika keuntungan bersifat sementara, maka pengaruhnya juga akan sementara. Individu-individu akan menggunakan kebijakan inflasi dalam keputusannya, menyebabkan mereka menduga inflasi akan lebih tinggi lagi. Oleh karenanya, kebijakan moneter hanya akan mengakibatkan hiperinflasi, tanpa berdampak positif pada sektor riil.

Bersambung ke bagian 2.

Bahan Bacaan
Priyanti,A, dkk, 2002, “Falsafah Kebenaran dalam Perkembangan Ilmu, (Pendekatan Aliran Pemikiran Makroekonomi)”, Makalah pada PPS IPB, Bogor
Zijp, R, 1990, Serie Research Memoranda: New Classical Monetary Business Cycle Theory, Facultelt der Economische Wetenschappen en Econometrie, vrije Universiteit, Amsterdam.
Garrison, RW, 2002, “Business Cycles: Austrian Approach” dalam An Encyclopedia of Macroeconomics (Vane H dan Snowdon B, eds), Aldershot: Edward Elgar
Botha,D.J.J,2007, “Professor Wijnholds’ Budget Theory of Money (Review Article)”. Journal Compilation (c) 2008 The Economic Society of South Africa
Haberler,G,1986, “Reflections on Hayek’s Business Cycle Theory”, Cato Journal, Vol. 6, No.2

Baca Selengkapnya..
 
(c) free template